top of page

Diamlah, “Mari… masuklah ke kamarmu”


Bacaan Alkitab: Kejadian 11-20


Yesaya 26:20 berkata, “Mari bangsaku, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintumu sesudah engkau masuk, bersembunyilah...”. Ayat ini menyampaikan ajakan mendesak bagi umat Tuhan untuk masuk ke kamar mereka dan bersembunyi sepanjang kemurkaan-Nya.


Tuhan adalah Roh dan Dia rindu untuk bercakap dengan kita bukan di bait suci yang dibuat dengan tangan tetapi di ruang hati kita di mana perubahan terjadi pada saat kita bertaubat, mengaku, dan mencari wajah- Nya. Di sanalah kita belajar untuk melihat dari sudut pandangan Tuhan, mengetahui dan mengerti kehendak-Nya untuk suatu waktu dan musim. Di hadirat-Nya kita menukarkan ketakutan dan ketidakpastian kita dengan iman dan pengharapan pada Tuhan. Beban, perjuangan dan kuk kita lenyap, dan kita sampai di tempat teduh.


Untuk memasuki ke ruang bilik adalah tindakan kehendak, pilihan untuk tunduk

dan menyerah. Tetap berada di barisan hadapan pada masa-masa genting ini adalah suatu keharusan, bukan pilihan. Abraham mengambil cabaran itu untuk memberi respons kepada panggilan Tuhan, untuk masuk ke bilik di mana dia dapat bercakap dengan Tuhan dan hidup dalam hadirat-Nya setiap hari.


Mari kita ambil musim ini untuk menarik diri daripada tuntutan tanpa henti dan kekacauan yang tidak berhenti-henti di sekitar kita. Dalam Mazmur 46, perkataan “diam” berasal daripada kata Ibrani “raphah” yang bererti melepaskan, berhenti berjuang, menyerah - untuk menurunkan tangan atau melemahkan diri sendiri. Dia memanggil kita kepada diri- Nya sendiri.


Semoga kita menyahut pelawaan-Nya untuk menyerah kepada perubahan ilahi ini untuk memungkinkan kasih karunia yang luar biasa dan kekuatan dari Roh Kudus menjadikan kita teguh dan menjadi lelaki dan wanita yang beriman.


Lucrece Loo, NECF


Comentários


bottom of page